Tidak Lengkap, ke Pacitan Tanpa Cicipi Nasi Kalakan
Kaupaten Pacitan, Jawa Timur, tidak hanya kaya dengan objek wisata goa tapi juga memiliki banyak pantai yang eksotis. Dari sekian banyak pantai, salah satunya yang belum dikenal umum dan belum tersentuh pengelolaan maksimal adalah Pantai Buyutan di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Kamis (30/4). Warga setempat swadaya membuat jalan desa menuju pantai untuk membuka akses pariwisata pantai.
Nasi kalakan atau sayur kalakan merupakan salah satu menu makanan khas Pacitan yang paling banyak digemari wisatawan lokal maupun luar daerah saat berkunjung ke obyek-obyek wisata di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Nasi kalakan memang menjadi ikon lain untuk mendeskripsikan pariwisata di “Kota 1001 Goa” ini. “Tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke sini (Pacitan) tapi tidak mampir beli kalakan,” kata Mulyono (35) wisatawan asal Solo, Jawa Tengah, Sabtu (14/11).
Mulyono hanyalah satu dari sekian banyak wisatawan yang terlihat asyik menikmati masakan daging kalakan di restoran Restu Jaya yang lokasinya persis ada di depan pintu masuk kompleks wisata Pantai Tamperan.
Duduk di pinggir restoran berbentuk panggung dengan posisi menghadap ke laut membuat daging kalakan yang dimasak menjadi sayur pedas serasa lebih nikmat.
Dihadapannya telah terhidang satu porsi menu kalakan lengkap berikut menu pelengkap seperti sayur oseng tahu-tempe, oseng terong, urap daun kenikir “plus” potongan kacang panjang dan tauge yang telah direbus. Masih ada satu lagi yang dihidangkan menjadi satu “paket” dengan kalakan, yakni tiwul.
Lalu, bagaimana rasanya? dijamin enak dan memberi kesan berbeda. Terutama bagi pecinta kuliner atau penggemar masakan ikan laut. Selain bahan utamanya adalah ikan hiu yang dikenal sebagai predator laut, cara penyajian yang dilengkapi sejumlah menu tambahan membuat makanan khas Pacitan yang hanya dapat diperoleh di sekitar kawasan wisata pantai ini banyak dicari oleh pengunjung lokal maupun luar daerah.
Supini (70) salah satu dari sedikit tenaga ahli pembuat kalakan asal Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan mengatakan, istilah kalakan sebenarnya merujuk pada potongan daging ikan laut yang disate (dipanggang mirip sate). “Kalakan biasanya baru dimakan setelah terlebih dahulu dimasak menjadi sayur pedas atau digoreng penggunakan tepung gaplek (tapioka),” katanya.
Mbah Sup, panggilan Supini, mengatakan, cara membuat kalakan sebenarnya tidaklah rumit. Daging hiu muda yang telah didapatkan cukup dibersihkan dahulu sebelum dipotong-potong dalam ukuran kecil. Besarnya kira-kira seukuran dua jari tangan orang dewasa atau separuhnya yang kemudian ditusuk satu persatu menggunakan tusuk sate.
“Daging ’kelong’ (hiu muda) yang telah disate lalu dipanggang diatas batok kelapa yang membara sampai matang,” kata Mbah Sup menjelaskan panjang lebar.
Setelah matang, kalakan ini tidak bisa langsung dimakan. Selain belum dibumbui sama sekali, makanan khas daerah Pacitan ini masih bersifat sebagai bahan makanan setengah jadi.
Agar bisa disantap biasanya kalakan dimasak lagi menjadi sayur santan pedas. Baru setelah itu, kalakan bisa dihidangkan bersama nasi tiwul ataupun nasi putih. “Cuma umumnya masyarakat sini lebih suka menyantapnya dengan nasi tiwul,” kata Wiwik (40), pemilik restoran Restu Jaya.
MBK
Editor: mbonk
Sumber : ANT


