AS Hargai China Sebagai Kiblat Baru Ekonomi Dunia

Belajar dari krisis keuangan yang melanda dunia akhir tahun lalu, Obama menilai pertumbuhan ekonomi dunia ke depan tidak boleh terlalu menggantungkan pada peran sebuah negara seperti AS saja, tapi juga pada negara lain seperti China. Obama juga mengingatkan pemimpin Asia untuk menghentikan ketergantungan terhadap AS sebagai pasar ekspor guna menjamin keseimbangan ekonomi.
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama tidak akan menghalangi kemajuan China sebagai raksasa baru di bidang ekonomi. Obama juga menegaskan akan terus mempererat hubungan dengan Asia.
Menurut Obama, munculnya China sebagai raksasa baru perdagangan justru akan semakin memperkuat ketahanan ekonomi dunia.
Sejak didera krisis finansial global, perekonomian AS belum menunjukkan perbaikan signifikan. Angka pengangguran masih tercatat 10%. “Amerika tidak akan menghalangi kemajuan China, kami malah akan mempererat hubungan bilateral dengan China yang memang pada dasarnya lemah. Semakin kuatnya China bisa menjadi sumber kekuatan untuk komunitas dunia,” jelas Obama dalam kunjungannya ke Jepang.
Dalam upayanya mempererat hubungan bilateral dengan China, Obama berjanji akan tetap membawa pentingnya penegakan hak asasi manusia (HAM).

Namun, dia akan melakukan hal itu dengan cara halus, bukan dengan semangat penuh dendam. Obama bahkan tidak menyinggung soal Dalai Lama atau Tibet yang bisa mengundang pro-kontra.
“AS tidak pernah ragu dalam membicarakan hal itu (HAM) demi nilai-nilai dasar yang kami anut serta nilai yang mengandung penghormatan pada agama dan kebudayaan semua bangsa. Namun, kami akan membahas persoalan HAM dengan semangat kemitraan, bukan lagi kebencian atau dendam,” tambahnya.
Dalam pidatonya di Tokyo, Obama juga menegaskan bahwa AS akan terus berkomitmen dalam mempererat hubungan dengan negara-negara Asia. Keterlibatan AS dalam perang Irak dan Afghanistan yang ditentang banyak negara Asia serta krisis ekonomi yang menggoyang negara adidaya itu memang memaksa AS untuk memalingkan muka ke Asia.
“Sebagai Presiden Amerika yang merupakan salah satu negara Pasifik, saya berjanji bahwa persatuan negara Asia Pasifik bisa memperkuat dan mempertahankan kepemimpinan kita di dunia. Tentara AS terlibat dalam dua perang, tapi itu tidak akan mengurangi komitmen kami dalam menjaga keamanan Jepang dan negara Asia lainnya,” tutur Obama.
Dalam masalah kerja sama ekonomi, Obama menantang negara Asia untuk memecahkan ketergantungan mereka pada ekspor ke AS dan mengejar pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan bertahan. “Kita harus memperkuat pemulihan ekonomi dan mengusahakan pertumbuhan yang seimbang dan kuat,” ujarnya. “Singkatnya, kita tidak bisa kembali ke siklus yang sama yang membuat kita mengalami resesi global.”
Dia mengungkapkan, AS akan mengusahakan strategi ekonomi baru yang berarti akan lebih banyak menabung dan mengurangi pembelanjaan. Kunjungan ke Tokyo juga dimanfaatkan Obama untuk kembali mengingatkan bahaya nuklir Korea Utara. Secara tegas, dia meminta agar negara tersebut kembali ke meja perundingan six-party (AS, China, Rusia, Korea Selatan, Korea Utara, Jepang) guna mencari penyelesaian nuklirnya.
Obama tiba di Tokyo, Jumat (13/11), dan menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Yukio Hatoyama pada malam harinya. Dalam pertemuan tersebut, Obama membahas sejumlah masalah penting seperti relokasi pangkalan militer AS di Kepulauan Okinawa.
Di Tokyo, Obama mendapat sambutan meriah dari 1.500 orang di Suntory Concert Hall. Pemerintah Jepang bisa bernapas lega karena kekhawatiran bakal munculnya demo tidak terjadi. Obama berada di Tokyo dalam rangka tur Asianya ke empat negara selama sepekan.
Selain ke Tokyo, Obama akan mengunjungi Singapura dalam rangka menghadiri KTT APEC, kemudian bertolak ke China sebelum mengakhiri lawatannya ke Korea Selatan, Rabu mendatang.
(Okz/yan)
Sumber: www.krjogja.com

